Bangkrut di Siam Reap

Cambodia, termasuk negara terakhir yang kami kunjungi pas indochine-tour April lalu. Karena targetnya adalah Angkor Wat, jadilah kota yang kita singgahi hanya Siam Reap, dan gak pake mampir ke Pnomh Penh. Karena Angkor Wat area cukup besar, jadi kita pikir 4 hari 3 malam cukup lah untuk menjelajahi Angkor plus kota nya. Kebetulan Siam Reap juga bukan kota besar, dan city highlight nya gak banyak juga.

highlight : Angkor Wat – Old Market – Ton Sap Lake- Apsara Dance – Khmer Massage

Dulunya Cambodia ini adalah bekas jajahan Prancis, jadi gak heran signage di Airport aja pake Bahasa Prancis. Bagi warga Indonesia, untuk masuk ke negara ini butuh Visa, dan visa on arrival pun cukup mudah didapat. Dengan membayar US$25 dan menunggu antrian kurang lebih 20-30 menit visa sudah didapat. Tapi anehnya, biarpun bekas jajahan prancis, uang yang beredar di sini selain Riel (local currency), adalah US Dollar. Bagus juga sih bukan euro. males gak sih.

Kita dijemput oleh tuk tuk driver namanya Dara, yang dikirim oleh hotel tempat kita nginep, yang juga sekalian jadi driver kita kemana-mana selama kita disini. Karena tuk-tuk nya dikirim oleh hotel, pas dijemput kita gak usah bayar, tapi ketika mau jalan-jalan baru bayar. Supaya gampang kita bikin upfront deal dengan sang driver – US$ 50 untuk anter kita kemana-mana selama 4 hari ini, termasuk ke Angkor Wat.

P1180917_resize_resizedi Siam Reap kita menginap di Rosy Guest House, western run bar (www.rosyguesthouse.com), seharga US$20/malam. Lokasinya lumayan dekat dengan taman kerajaan, tapi sayangnya kita gak sempat jalan-jalan kesana, padahal kayaknya tamannya cukup oke buat foto-foto sore.  Pilihan hotel di Siam Reap sebenarnya cukup banyak, ada yang deket dengan Old Market dan pub street, ada juga yang mengarah ke Angkor Wat, dan kita memilih yang terakhir, besides, friend recommendation never fails :-). Kamar di Rosy Guest House cukup pas untuk ber 2, gak kecil gak besar. rapih, bersih, kamar mandi di dalam dan ada air panas, dan pastinya…ada AC!

Siang pertama kita jalan-jalan ke Ton Sap Lake, salah satu danau terbesar di Asia Tenggara – dan menuju kesana melewati area yang di describe oleh si Dara sebagai “poor fishermen village”.  Rumah-rumahnya berupa rumah panggung, daP1180836_resize_resizen kelihatan seadanya, dan karena lagi musim kering makanya kelihatan sebagai rumah panggung. Karena ketika lagi musim hujan pemukiman itu akan jadi pemukiman ‘mengapung’. Apa yang kita lihat ketika sampai di Ton Sap Lake juga gak beda jauh, intinya nya area ‘miskin’.

Dengan menyewa kapal seharga US$ 15 untuk ber 2, kita menyusuri danau. Danau nya ternyata beneran besar, sampe kita pikir ini danau apa laut ya? Di tengah ada pemukiman dan sekolah untuk anak nelayan, dan kita ditanya oleh guide kapal kita apakah mau mampir dan menyumbang stationery untuk anak-anak sekolah itu? dan tentunya gue dan Dita temen gue tidak tertarik dengan acara sumbang menyumbang. Sorry ya, kita bukan bule dari negara maju meskipun bayar segalanya pake US$, kita kan juga manusia dari negara berkembang, kalo mau nyumbang mending gue nyumbang negara sendiri hehehe. Dan kita pun skip visiting fisherman’ kids school. btw, ketika kita di sana, kalau gak salah itu hari libur, kenapa juga ada anak sekolah ya… kasian banget anak-anak itu di eksploitasi untuk memperkuat kesan kemiskinan. Well poverty still sells.

Selain liat perkampungan nelayan di tengah danau, juga mampir ke toko suvenir disana, yang menjual kain dan crafts lain. Tapi kami gak tertarik untuk belanja disana karena takut harganya ‘aneh’. Setelah hampir 1 jam kita pun kembali ke pelabuhan kapal nya. Dan memberi guide kapal yang ada 2 orang itu US$2 sebagai tip. Yah gitu-gitu lumayan lah ada yang menjelaskan ini apa itu apa, dan dengan bahasa inggris yang cukup bagus dengan akses Inggris, akibat les dengan NGO asing yang kebanyakan mungkin dengan strong british accent.

Dari Ton Sap Lake, kita keliling kota, dan ended up at old market. Untuk yang hobi kain dan bahan dan scarf, hati-hati ..untuk di ‘rampok’ kalau kalap. pasti kalap deh. yang tadinya kita gak mau belanja karena duit dollar hanya terbatas (US$250-300) akhirnya gak tahan dengan rayuan mbak-mbak penjual disana. “this is cheaaaap madaaaam..oke…I give you morning price..very cheap…2 dollaaa for this lovely scarf..” (dengan nada genit-genit sopan dan halus). yang tadinya kita memalingkan muka akhirnya kok malah keluar dari sana dengan kantong-kantong belanja. Gue dan Dita liat-liat an. Gak bener nih. This is just the first day! kabuuur!

Untuk makan, coba di area Pub Street. Disana ada banyak deretan restoran-restoran, yang bukan hanya menyajikan western menu tapi juga local delicacy yang mirip dengan makanan Indonesia. pasti ada nasi dengan lauk,  seperti lok-lak (tumisan daging di atas saladatimun, tomat, bawang bombay), ginger chicken, kari/sup, tumisP1190447_resize_resizeP1190366_resize_resize, amok (ikan lele kari), dengan rasa jahe yang cukup kuat. Enak! Untungnya pergi ber 2, jadi ketika pesan makan bisa di share. Karena harga-harga dalam US$, makanya kita gak selalu makan di restoran, dimana sekali makan bisa keluar 5-7.5 dolar/orang. Roti menjadi teman baik untuk makan pagi dan cemilan siang-sore, bahkan ada juga makanan siang yang kita sisain biar bisa dimakan sampe malem.

Dasar kaum papa gak mau rugi, kita mengalami dilema. Mau nonton Apsara Dance gratisan yang mulai jam 7.30 pm, dan juga ngejer diskon roti enak di Blue Pumpkin pattiserie. Pada saat itu baru jam 4 sore. Tuk Tuk udah kita kirim pulang. Jadi kalau mau balik hotel dulu brarti kita harus sewa tuk-tuk lagi ke hotel dan balik ke pub street. bisa habis US$10 sendiri. Jadilah kita pasang strategi : kita nunggu aja di Pub Street sampe jam 7.20 pm, masuk restoran yang ada Apsara Dance gratisan dan pesen makanan jadi gak lama sampe nunggu tari Apsara nya – dan jam 8 pm salah satu dari kita lari ke Blue Pumpkin untuk beli roti diskonan.P1190489_resize_resizeP1190390_resize_resize Kita dapet rekomendasi Blue Pumpkin dari temen yang udah kesana juga, and turned out the chees cake and tiramisu nya enak!

3 jam lebih ngapain coba, selain bolak-balik masuk toko buku second-hand (dan juga jual buku lonely planet bajakan!) dan nangkring disitu sampe bosen, sampe akhirnya kita duduk di pojokan jalan sampe jam 7.20 pm. Kasian banget deh jadi backpacker kere hehehe. setiap dollar berharga soalnya:p

Dasar warga Asia yang gak enak an, di restoran tempat kita nonton Apsara Dance gratis itu kita mesen makanan 2 untuk di share karena tempat nya kelihatan posh gitu dengan pikiran toh budgetnya masih cukup untuk pesen makanan. Eh ternyata segerombolan bule spanyol di meja sebelah hanya mesen bir, gak pesen makan, dan segerombolan bule di belakang malah cuma pesen 1 makanan untuk ber 3. laah. tau gitu tadi kita beli makanan nya 1 aja…

intinya, gak usah malu untuk berhemat. kalau gak usah beli , ngapain beli. selama bisa share 1 untuk ber 3 kenapa beli 2 untuk 3…

Selain di restoran ‘turis’ di area Pub Street, demi bayar murah kita rela explore tempat lain yang kali aja ada jajanan murah meriah. Dan kita nemu warung nasi goreng yang jualan ibu-ibu, dan ada 1 keluarga lokal lagi makan disitu. Kayak nya aman. Sebelum kita pesen, mending tanya harga dulu tho. dan harga nya kira-kira US$2.5-3 lah per orang. mayan deh. Tapi yang bikin gak tenang…anjing-anjing berkeliaran. Makan boleh murah, tapi kaki diangkat plus was-was….

P1190415_resize_resizeUntuk yang suka belanja, selain di Old Market, bisa juga ke Night Bazaar, untuk harga sih gak jauh beda dengan old Market, malah ada yang lebih murah. kalo capek bisa pijet refleksi pula di situ:p Hari terakhir kita disana kebetulan adalah hari menjelang Khmer New Year, dimana semua keriaan akan berlangsung di Angkor. Wah menarik banget, tapi kebayang harus manjat-manjat lagi padahal kita udah lelah maksimal kayaknya we chose to stay in the city and enjoyed the night lights.  Di pasar orang sibuk belanja, dari sayur-mayur sampe pernak-pernik new year seperti lampion. Seru banget. Jadi inget pas hari terakhir di bangkok, orang-orang lagi sibuk siap-siap buat Songkran Festival (kayak perayaan taun baru nya juga).

Karena sempet belanja air minum di supermarket lokal, kita pernah juga dapet kembalian dalam mata uang Riel, padahal kita bayar dalam US$ dan itu bikin bete banget karena kita gak tau ini seperberapanya US Dollar sih? Jadilah dalam setiap kesempatan kita mau makan atau minum selalu nanya, berapa harganya dalam Riel? Akhirnya kesempatan untuk menghabiskan riel kita dengan makan es campur di jalan, yang sebenernya harganya cuma 500 riel tapi karena kita turis di charge 1000 riel. Ah well. sama aja kayak di jakarta, turis membayar lebih mahal!

Setelah capek-capek jalan-jalan, dan manjat Angkor temples..spare your money on something important, Khmer Massage. di sepanjang Pub Street cukup banyak yang nawarin massage, pilih-pilih aja, karena bisa ditawar. akhirnya kita dapat tempat yang kasih harga US$6 (dari 8 dan 10 US), dan selama 1 jam kita ‘disiksa’.  Massage nya sendiri mirip Thai Massage, tapi karena ini Khmer, bahasa dan pijetannya lebih brutal, dan lo bisa mendengar tulang-tulang lo berbunyi ‘kreteeek kreeeteeeek…kreeeekkk..!” tapi setelah itu : tidur nyenyak…! Jadi jangan sering-sering massage nya, cukup sekali aja, biar maksimal dan biar badan gak jadi kayak daging wagyu kobe hehehehehehe…

more pictures at : http://narizza.multiply.com/photos/album/96/siam_reap_-_the_city

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s