bonjour Geneve!

This slideshow requires JavaScript.

Berhubung apartemen temen yang gue tumpangi ini ada di St. Genis – yang merupakan perbatasan Prancis dan Swiss – pagi-pagi sebelum ke centre nya Geneve gue sempatkan dulu untuk ‘orientasi’ di daerah sekitar. Kota kecil, yang mengingatkan ke Neully Plaisance di outskirtnya Paris.

Karena toko roti belum buka, jaid gue langsung menuju centre Geneve yang bisa dicapai dalam waktu kurang dari 30 menit, dan sudah sampai di Cornavin lagi. Mau foto-foto sama patung Tintin dan Snowy yang dipajang di kaca hotel, tapi ternyata susah juga motret objek yang tertutup kaca tanpa pantulan cahaya dari mana-mana.

Acara dimulai dengan Haryo nemenin gue ke tourism office, yang untungnya cukup helpful dan bisa bahasa Inggris – lagi males pake bahasa Prancis. Sukses beli tiket untuk ke Chamonix besok! Dengan tour harga tiket Geneve-Chamonix PP itu 108 CHF, terus kalau disana mau naik Mer De Glace, nambah 60 CHF dan kalau mau naik ke Mont Blanc nambah lagi 80 CHF. Untuk sementara gue beli tiket bus nya aja dulu, dan gue memilih untuk ikut tour daripada berangkat sendiri karena hanya beda 20CHF aja.

Langsung bayar, gesek kartu kredit…hoaaaah ..sedihnyaa…. Tapi gak papa, demi the best ski resort!

Selesai sedih karena habis gesek kartu kredit, langsung jalan ke Lac Leman, melintasi jembatan, dan melihat landmark kota Geneve – Jet d’eau alias jet water. Karena ini masih setengah pagi, tentunya Jet d’eau belum menyala, tunggu nanti jam 12 siang. Jalan-jalan di sekitar taman dengan jam matahari besar nya itu, langsung pingin rebahan dan numpang tidur dan minta pijit – saking nyamannya.

Sebelum terlena dengan taman, dan masih ada energi, jalanlah menuju old town yang hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari situ atai 15-20 menit dari Cornavin, melewati butik-butik di Rue de la Confederation / Rue de Marche dan Rue de la Croix. Belom apa-apa yang kelihatan mata kok toko Rolex dengan lambang yang besar itu berseblahan dengan Piaget, Brietling, Raymond Weil, Chopard, Leonard, Tag Heuer dan jam-jam premium lain. Walalupun kaki langsung melangkah ke situ, tetep aja kantong hanya bisa mengakomodir Swatch hahaha.  Buat pecinta Celine, Gucci, Prada, LV, D&G, Ferragamo – dan pecinta window shopping kayak gue – silakan ngiler, dan siap-siap rogoh kocek lebih dalam karena beberapa barang lebih mahal daripada butik di Paris! Even for Swatch, harganya gak lebih murah 1 sen pun dari yang ada di Paris (dan hanya beda dikit dari Jakarta!), jadi yang orang-orang bilang disini jam tangan murah itu ada dimana ya????

Sebagai tempat yang terkenal dengan coklat nya pun – ternyata nggak semurah itu juga, walaupun emang lebih murah dari Jakarta (karena tax), tapi harganya bisa beragam tergantung tempat, dari toko biasa, chocolatier, atau bisa juga dapat di carrefour (di St.Genis ya, bukan di Geneve), atau di supermarket biasa di bawah station Cornavin.

Melihat  bangunan-bangunan di Vieux ville atau old town di Geneve, yang kira-kira ada dari abad 16 an, rasanya jauh berbeda dengan Geneve yang tadi gue lewati. Area ini seperti area tertutup dengan cobble stone street, dengan jalanan yang agak menanjak menuju market place yang medieval dan konon katanya dari jaman roman forum, dimana sekarang sudah diisi dengan beberapa terraces café. Dari sini menurun ke arahTemple de la Madelaine, gereja gothic dengan menara ala romanesque, dan di arah yang berlawanan ada rue de hotel de ville yang menjadi jalan ke Hotel de Ville alias town hall dan berdekatan dengan Calvin, sebuah chapel kecil yang menjadi tempat penampungan refugees yang kebanyakan tidak bisa berbahasa Prancis pada masa itu, dan akhirnya tempat itu menjadi tempat international pertama di Geneve.

Sisa-sisa jaman Roman, juga terlihat di Catederale st. Pierre, dan untuk yang berminat untuk mengunjungi Archeological site yang ada di bawah Catederale, tempat itu dibuka untuk umum.  Gue sih gak terlalu tertarik untuk masuk ke bawah, dan lebih memilih untuk duduk di salah satu bench yang ada di atas untuk melihat Geneve dari atas sini, dan kemudia melanjutkan ke area sekitar Old Town ini yang lumayan menarik. Grand Rue, tempat kelahiran Rousseau, yang dekat dengan jalan dimana para orang kaya ala Prancis jaman dulu dan orang kaya Geneve masa kini di Rue des Granges. Di sini ada pula beberapa museum, seperti Musée d’art et d’histoire dengan fine arts collectionnya karya Rodin sampai Cézanne, Renoir, etc , juga Musée Barbier-Muller berisikan beberapa koleksi patung dan art lain dari non-eropa, seperti dari Afrika dan Oceania.

Lelah dengan old town, dan gue memutuskan untuk kembali ke ‘zaman Swatch’ sambil beli roti di salah satu pattiserie di jalanan menurun dari Catederale St. Pierre. Dan kemudian memakan roti itu sambil melihat orang lalu-lalang di rue de la croix, yang sedang menunggu tram, yang belanja, juga yang sedang bengong-bengong juga seperti gue.  Berhubung lagi mens, bawaanya ngantuk, laperrrrr terus. Gue makan roti total 3 kali, makan crema catalana dan coffee di Movenpick dan bawaannya tetep laper! Apalagi dengan pemandangan Jet d’eau dan pelangi yang muncul jadi membuat area taman itu jadi lebih warna-warni. Melihat deretan yacht, blue water, orang pacaran bolak-balik, orang tua yang ‘ngangon’ anak, dan  anak-anak memberi makan ke bebek-bebek di anau (yang memang jadi konservasi untuk beberapa tipe bebek dan sea gulls), angin sepoi-sepoi, bisa bobo nih!

Baru mau merem, tau-tau ada anak minta-minta dan ketika gue juga gak duit dan miskin, terus dia ngeliat roti gue, gue jawab aja “ini gue nyolong di hostel gue kemaren..” emang bener sih, gue nyolong di Milan, yang seharusnya gak bole keluar dari ruangan breakfast hihihihihhihi.

Menjelang magrib, gue mampir ke Eurolines untuk cari bus ke Rotterdam karena gue harus kembali lagi kesana untuk wawancara dengan alien police (cerita lebih lengkapnya di cerita Rotterdam aja ya), ternyata harganya mahal banget, sekitar 109 CHF dan berangkat jam 11 malem pula! Gak jadi deh!

Selain jalan-jalan di area kota tua, bisa juga dilanjutkan ke chateau Place Neuve dan Tour d’Ile, sisa-sisa abad 13 dimana ada Musée Rath, Conservatoire de Musique, dan Grand Théatrè.  Tapi kalau mau lihat markas United Nation, lanjut aja ke Place de la Nations di Avenue de la Paix, dan cukup naik bus sekali dari hotel Cornavin ambil yang menuju Aeroporte. Berhubung sedang ada demo gede-gedean refugee di depan UNHCR, dan orang banyak banget, bikin males untuk jalan-jalan disitu, dan bus gak setiap menit ada. Yang ada nanti susah pulang padahal udah kebelet pipis.Sedih juga, soalnya belom foto-foto di situL

Jadilah gue melanjutkan naik bus ke arah Aeroporte, untuk transfer dengan bus Y yang membawa gue kembali ke St. Genis dalam waktu 1 jam sudah sampe di dalam Carrefour di France untuk beli makan malam:p Untung gue gak lupa bawa Euro gue, karena ini wilayah Prancis, bukan SwissJ. Bobo cepet ah, besok pagi mau ke Mont Blanc!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s