Sète (fake) baywatcher..

I know Sète from one of my team at the office, who used to study in Montpellier. He said that I should go there if I love the port, fishing village and stuff. OMG. I adore them! The port and fishing village always excite me. I was once told that I was a bohemian and used to live by the mediterranean sea and my house was not far from the port, where I transport coffee (hence explains my deep interest of sea, port, style and coffee…).

There are two ways to go to Sète from Montpellier, by train (intercity train, costs only around 8 euros one way, around 30 min trip), or by bus. But the bus is rather far, I had to reach the bus station from the other way of the tram line. And my rental apartment was only 5 min walking from the main train station, so I think that was the easiest way.

I got the early train ticket (and surprisingly I was early for the train, that never occurred to me:p), but the thing is there was fire accident at Lunèl, one city that is in my train line (direction Bordeaux), so everything was postponed…..and after 3 hour of waiting frustration, the train was canceled.

This was quite the first time I got early and bought the ticket just to be efficient. Had I been late or last minute as usual, I’d know that the train got held up and I wouldn’t have bought the ticket and bought the bus ticket right away….

Bref. Under the 36 degree heat,  I rushed to the tram line 2 from Place de la Comédie to Sabines, and there I waited for another hour for the bus to come…And finally, the bus number 102 that costed only 1,6 euros came and hopppppp, I was on the way and one hour later I arrived by the port of Sète! Yayyyyyy

My reflex was always go to the tourism office to get information on how to get around, and how to get to the beach. The information was not too sufficient, Continue reading “Sète (fake) baywatcher..”

Paris Bus. Get in. Get Transfered.

Bus dalam kota Paris biasanya sih rapih, tepat waktu (kecuali ada gangguan tadi), dan supirnya hobi menyapa “bonjooooouuuuuurrrr”, seperti supir bis 96, rute sekolah gue. Biasanya dia akan tetap ramah…sampai…ada mobil/truk/bis gila lain yang kebetulan menghalangi jalan nya dia, apalagi pas di persimpangan jalan kecil. Mulailah gue belajar kosa kata baru, baik dari supir yang sibuk marah-marah, terus supir yang dimarahin itu juga ngotot dan ngeyel (padahal jelas dia yang salah), juga dari penumpang yang nggak sabaran.

Karena situasi jadi nggak kondusif untuk tetep pakai jalur tersebut, supir kemudian akan kasih tau ke kita bahwa dia akan muter ke jalur lain, yang tentunya kemudian memecah belah persatuan dan kesatuan penumpang – antara mereka yang setuju (toh gue juga akan turunnya di ujung terminal kata mereka) dan mereka yang nggak setuju (masa gue harus naik angkutan lain? Bayar lagi dong? Makan waktu tau nggak!) – dan pastinya sumpah serapah kepada pemerintah yang dianggap nggak becus mengurusi hidup warga padahal udah bayar pajak tinggi banget. Melebar kemana-mana? Pastinya! Namanya juga hidup di negara tukang protes…hehehehehee

Pernah juga gue pagi-pagi naik bis, dan merasa damai aman tentram karena nggak ada insiden secuil pun dari awal naik bis. Bis datang tepat waktu, nggak ada manifestation atau demonstrasi, Continue reading “Paris Bus. Get in. Get Transfered.”

Paris. Halte Bis

Silakan tunggu bus anda disini. Harap perhatikan baik-baik, karena tidak semua halte itu bisa dipakai untuk naik semua bis, coba dilihat dulu nomor bis yang lewat, dan lihat di petunjuk jam digital yang menunjukkan berapa lama lagi bus akan sampai. Bisa juga sih tulisan yang terpampang disitu adalah hors de service karena kebetulan jalur bis terganggu karena demo (yang sering banget itu). Kadang-kadang demo yang … Continue reading Paris. Halte Bis

Paris. Halt! Bang! Bang!

Kadang, untuk stop-in bis, nggak selalu di halte yang berbentuk halte. Tergantung tempatnya, kadang-kadang hanya tiang dengan palang nomor bis, dan rute bis nya lewat mana. Kadang pakai petunjuk digital, kadang  juga enggak. Kalau kebetulan nunggu bis di halte eh tiang seperti ini, pro-aktif lah! Caranya? Pakai lambai-lambai tangan! Kadang gue suka keceplosan jerit-jerit ‘Bang…bang…!” Jadi, bis nya lewat situ, dan kita sudah manteng, belum … Continue reading Paris. Halt! Bang! Bang!

From Mestre to Venezia

Tadinya gue berniat untuk tinggal lebih lama di Venezia lebih lama karena mau mampir ke Trieste juga, apa daya, hotel yang tadinya udah dapet murah meriah (Cuma 25 euro, walaupun gue harus geret koper ke lantai 2 lewat jalan berbatu dan berliku – uufff Nike Ardila banget), tiba-tiba promo nya habis begitu saja, pas gue mau beli. Makanya, jangan kebanyakan mikir! Padahal hotel ini lagi … Continue reading From Mestre to Venezia

angkot gratisan di Wien

Perjalanan menuju Wien – alias Vienna alias Wina, menginap di rumah Riena yang  dari text nya gampang banget…“sampe di Wien Sudbanhoft, naik Tram D sampai Borgegasse, terus naik bus 40A, turun di Peter Jordan Strasse, cari nomer 120..” wah kayaknya mudah kan?? Keadaan sebenarnya : Sampe di Wien Simmering yang masih ada di luar Wien, terus naik kereta sambung ke Sudbanhof dan dari situ sibuk … Continue reading angkot gratisan di Wien

France and Spain : What a ride! (part 2)

BUS Perjalanan menggunakan bus antar negara gak ada, tapi antar kota hanya sedikit, yaitu ketika mau ke Sevilla dan Granada, dari Madrid.  Ada beberapa bus station di Madrid, tapi yang utama ada di Mendez Alvaro  (Estacion Del Sur or South Station) yang melayani rute ke Selatan, Timur dan disanalah gue berada untuk antri tiket menuju Andalusia.  Station ini terhubung langsung dengan kereta dari Atocha train … Continue reading France and Spain : What a ride! (part 2)