au marché : best place to start learning language!

Mau belajar bahasa dengan cepat? Ya datang ke negara nya dong. Mau bisa bicara dalam bahasa itu lebih cepat lagi? Ya hidup seperti orang lokal dong. Mau bisa lebih cepat lagi? Coba belajar masak. Lebih seru lagi kalau ikut sekolah masak. Pusing kan kalo terus-terusan di teriakin oleh Chef nya kayak gini setiap hari..”Donnez-moi l’oignon, pas l’échalote! Remuez le potage bien! Vous n’avez pas enlevé … Continue reading au marché : best place to start learning language!

Behind Paris ‘chic’

Paris, it’s the city of light and it’s the city of style. Semua barang dari Paris, kalau sampe Jakarta pasti serta merta berkesan ‘wah’ dan keren, padahal beli nya di pingir-pinggir jalan atau toko-toko impor Cina, tapi karena dari Paris, jadi kesannya canggih.

Hampir mirip dengan Milan, semua orang pikir semua yang ada disitu pasti keren-keren, tapi menurut gue, gaya orang-orang di Milan belom merata, jadi yang gaya yah super gaya, dan yang biasa-biasa aja juga banyak. Tapi kalo di Paris, semua orang pasti gaya!

Apa sih rahasianya, sampe orang-orang ini bisa begitu keren gayanya?

Ternyata simple aja : vintage store, atau ‘dépôt vente’. Mau cari barang apa juga ada, dari Chanel bekas yang klasik itu, sepatu Prada, Jaket Kenzo, rok nya…. semua ada. Dari rok 5 euro an, boots 10 euro, jaket 15 euro, jaket bulu 35 euro, sampe tas Chanel 400 euro (harga baru 2200 euro lho), dari dépôt vente ‘madusik’ alias makin diaduk makin asik – sampe butik dépôt vente yang keren… tentunya sasaran gue adalah dépôt vente yang ‘madusik’ tadi, ketimbang yang butik, walaupun kalo lagi gak tau mau ngapain, paling asik liat iklan di majalah atau di koran soal diskon-diskon di dépôt vente (bayangin, udah murah, masih pake diskon). Continue reading “Behind Paris ‘chic’”

Arrivo, Firenze, Tuscany

Firenze, atau Florence dalam bahasa lain, adalah capital city dari Tuscany region, dimana konon katanya ini adalah tempat kelahiran dari Italian renaissance. Many piazzas, palazzis (renaissance palaces), parks, gardens, churches, monasteries..galleries…arts….

Firenze is small town, you can easily walk anywhere, kalo gak capek.  I’m so lucky, the Plus hostel that I’m staying in is in the centrale, so it takes only 10 minute walking to Duomo (kecuali lewat mercato centrale..the speed depends on how long you stop there shopping).

Perjalanan pertama  : mercato centrale…ngeri..ngeri…kenapa ini lewat yang pertama yaa…ini tempat belanja edan, dari souvenir, leather goods (and real leathers, all good), shoes, bags, food…anything…mengerikan. Dan semua bisa ditawar! Tapi ada satu barang udah gue incer, apron bergambar David telanjang! Continue reading “Arrivo, Firenze, Tuscany”

Thailand Saga : Bangkok, Dangerous

Setelah pemesanan tiket yang melelahkan TUJUH (7) bulan sebelumnya, sampailah trio kwek-kwek ini ke Thailand, sebelum nantinya pindah-pindah ke negara-negara Indochine lainnya. As planned, we were in Thailand for 10 days, starting with Bangkok, Phuket, island hopping to Phi-Phi Island, and Krabi. We wanted it as easygoing kinda trip, manage to make it to several attractions, but also at least could unpack and spread the … Continue reading Thailand Saga : Bangkok, Dangerous

Bangkrut di Siam Reap

Cambodia, termasuk negara terakhir yang kami kunjungi pas indochine-tour April lalu. Karena targetnya adalah Angkor Wat, jadilah kota yang kita singgahi hanya Siam Reap, dan gak pake mampir ke Pnomh Penh. Karena Angkor Wat area cukup besar, jadi kita pikir 4 hari 3 malam cukup lah untuk menjelajahi Angkor plus kota nya. Kebetulan Siam Reap juga bukan kota besar, dan city highlight nya gak banyak … Continue reading Bangkrut di Siam Reap